Untuk dapat mencapai Tuhan, maka akal harus dikembangkan dan disucikan. Akal sangat dihormati sebagai alat untuk melakukan perenungan jiwa, alat untuk pencerahan jiwa, dan alat bersatunya jiwa dengan Tuhan. Akal dipercaya sebagai percikan cahaya akal universal. Dalam tradisi pecinta-tradisi ini, meski menghargai akal, tahu dari pengalaman bahwa akal tidak ada gunanya saat berhadapan dengan misteri-misteri, hubungan cinta antara jiwa dan Tuhan. Para kaum arif atau selelompok pecinta Tuhan tahu bahwa, untuk menghidupkan kembali kedekatan awal jiwa dengan Tuhan dibumi ini-dan tanpa ini jiwa tak mungkin bisa kembali kekampung halamannya-maka pada saat itulah dibutuhkan fakultas-fakultas selain akal, yaitu fakultas persepsi dan pengetahuan.
Fakultas ini adalah hati. Ketika hati sudah mampu mengakui kesalahan dan menerima kebenaran, pada saat itulah muncul kekuatan jiwa yang tidak akan mampu bagi akal untuk menangkapnya-Disinilah akal harus bungkam, kalau tidak-kita jadi sesat. Karena hati bersama-Nya (Allah)-dan yang bisa menguasai adalah-Dia (Allah). Sebab Allah (Tuhan), tidak bisa dirasionalkan (akal-akalkan), dan Allah (Tuhan) hanya bisa di imani dan diyakini oleh hati. "Agama dan cinta", selalu melihat hati manusia, bukan akal, sebagai esensi eksistensi manusia dan sebagai tempat bagi fakultas melihat (bashiroh) yang melihat segala sesuatu dari sudut pandang jiwa (spiritual).
"Banyak orang, meski matanya melihat, namun hatinya tertidur -sesungguhnya apa yang mestinya dilihat mata makhluk yang tercipta dari air dan tanah liat? Bagi pengembara spiritual yang hatinya selalu terjaga-walau kedua mata dikepalanya tertidur pulas, hatinya akan membuka seratus mata. Bangun-bangkitlah wahai sang pencari kebenaran, jika hatimu ingin membuka seratus mata, maka kau harus selalu melakukan pencerahan terhadap hatimu. Hati, oleh Allah "Tuhan dirancang untuk fungsi komunikasi dengan yang gaib, mengandung benih-benih atau potensi-potensi organ untuk melihat.
Agar fungsi jiwa ini benar-benar efektif, organ-organ ini harus dikembangkan. Inilah tugas terberat manusia dimuka bumi. Dan ini penuh dengan tantangan yang membutuhkan kesabaran dan tekad yg serius untuk menghadapinya. Sebelum organ baru untuk melihat dapat dikembangkan, sang pengembara spiritual harus merasakan dahulu "berbagai kekecewaan, ketakutan, kecemasan dan kebahagiaan selama dalam pengembaraannya. "Manusia harus menyadari suatu kebutuhan yang tak mungkin terpenuhi bila hanya mengandalkan organ-organ indra yg lama, suatu kebutuhan yang tak mungkin terpenuhi bila hanya selera hawa nafsu saja.
Kebutuhan ini harus tumbuh dari dalam dirinya sampai ukurannya tak ada batasnya. Kalau tidak, kondisi kecewa tak akan pernah mengalami perubahan yang berarti, dan yang terjadi hanyalah fluktuasi fantasi tentang perubahan. Orang-orang yg antusias "tahu" kualitas kebutuhan ini, namun bagaimana cara menjelaskan kepada orang-orang yang tidak antusias"? Setiap eksistensi ada tempat tertentunya "dalam hierarki alam semesta", dan hanya ditempat tertentunya itulah setiap eksistensi menerima bagiannya dalam kehidupan dan kesempurnaan, yang dikomunikasikan kepadanya oleh eksistensi berikutnya yang lebih tinggi darinya, dan yang pada gilirannya harus mengkomunikasikan kepada eksistensi yang lebih rendah dari dirinya.
Dalam esensi segala makhluk ada kebutuhan untuk menjadi lebih sempurna, untuk berkembang menjadi spesies yg lebih tinggi. Kebutuhan semacam ini diartikan sebagai cinta yg membara (isyq) kepada apa yg dipandang sebagai lebih sempurna, lebih cemerlang. Semua proses asimilasi, pertumbuhan dan reproduksi ini merupakan manifestasi cinta. Tanpa cinta, tak akan ada gerakan pada alam semesta-Materi yg belum jelas karakternya ini diciptakan untuk membuat kekuatan batin yg memliki rahasia kedahsyatan cinta, beragam bentuknya dan semakin tinggi tingkatannya, maka disitulah sang hati akan mampu melihat dan merasakan keindahan2 yg identik dg kesempurnaan Sang Maha Abadi, Sang Maha Kekasih Tercinta Yg Melebihi Segala-galanya.
0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan tulis komentar anda disini ...