Tahun demi tahun mereka berdua menjalani hidup dengan bahagia, rukun,
makmur, damai sentosa ..... sampai tak terasa sampailah mereka ke ulang tahun
kelima pernikahan mereka (konon kata orang, 5 tahun pertama merupakan masa-masa
yang penuh "badai" dalam mengayuh bahtera rumah tangga).
Malam itu mereka habiskan dengan ber CANDLE LIGHT BUFFET yang romantis di
sebuah restoran.
Pendek cerita, sepulang dari restoran acara bermesraan diteruskan sampai
masuk kembali kerumah, masuk kembali kekamar, naik kembali ke ranjang dst., dst.
........
Usailah satu sessi penuh kemesraan, penuh gelora ......... dalam keadaan
setengah fly (makan malam tadi cukup kenyang, dan sessi terakhir tadi cukup
menguras tenaga) mas Dicky melihat istrinya dengan hati-hati mengeluarkan
sebuah KANDAGA dari lemari, menciumnya, dan mengembalikan lagi kebelakang
tumpukan pakaiannya. (Kandaga adalah sebuah kotak kecil dari kayu jati atau
sonokeling, biasanya berukir indah, tempat para isteri bangsawan Jawa tempo
doeloe
menyimpan koleksi permata, perhiasan emas atau barang-barang berharga
lainnya).
Penasaran, mas Dicky menanyakan kepada isterinya apa gerangan isi kandaga
itu, namun mbak Isye cuma menjawab: " Maaf, Pa, Mama 'nggak bisa
memberitahukannya. Kalau memang Papa bener-bener sayang sama Mama, udahlah,
jangan tanya itu lagi."
Mas
Dicky terdiam, dan hanya bisa menurut saja. Namun rasa penasaran belum
mampu dia usir dari benaknya. Disaat-saat sendiri, selalu saja rasa penasaran
itu mengganggunya, tapi "demi cinta", tak pernah dia sampai hati menanyakan hal
itu kembali pada isterinya
As the story goes, waktu pun berlalu ...... hari berganti bulan, bulan
berganti tahun, angin berhembus, cuaca berubah, namun daun-daun tetap tumbuh
menghijau, begitu pula kehidupan rumah tangga ini.
Mereka cukup bahagia lahir bathin dengan 2 orang anak (laki dan perempuan),
karir mas Dicky-pun selalu menanjak sehingga kehidupan keluarga selalu
berkecukupan adanya.
Tak terasa waktu terus bergulir, dan tibalah
10 tahun usia perkawinan mereka.
Setelah melakukan ritual yang sama, mas Dicky kembali membisikkan
keinginannya sama sang istri, betapa ia ingin tahu apa isi kandaga itu ........
tapi tetap saja istrinya menolak dengan halus.
Karena memang mas Dicky tidak ingin menyinggung perasaan istrinya, maka ia
juga tak memaksa.
Begitulah kembali hari berganti bulan, bulan berganti tahun, tahun berganti
windu, sampailah saatnya mereka merayakan ulang tahun perkawinan Perak mereka.
Putri mereka yang pertama sudah menikah, malah mereka sedang bersiap-siap
menantikan kedatangan cucu mereka pertama. Namun karena mereka
dulunya termasuk pasangan yang cepat kawin, maka kondisi phisik mereka
masih kelihatan prima. Maklum saja lah, mas Dicky baru 50 tahun dan mbak Isye
baru saja berulang tahun ke 45.
Apalagi pasangan ini termasuk mereka yang rajin merawat kebugaran, mas
Dicky tiap week end masih rajin main golf bersama relasi, kalaupun mbak Isye
'nggak ikut menemani, paling-paling dia sibuk Fitness atau beraerobic bersama
teman-teman arisan atau kelompok-bermainnya sendiri.
25 tahun bukannya masa yang pendek, maka malam itu mereka sepakat untuk
mengadakan syukuran sekedarnya, dengan mengundang besan serta keluarga dan
kerabat dekat lainnya.
Acara berlangsung meriah di rumah mereka yang asri dan diakhiri dengan
menikmati barbeque di kebun belakang.
Lewat tengah malam ketika tamu terakhir meninggalkan rumah pasangan ini.
Kembali ke kamar, "ritual" rutin pun berulang kembali. Lagi-lagi mas Dicky
menyatakan keinginannya untuk mengetahui apa isi
kandaga itu. Kali ini, setelah 25 tahun, akhirnya sang Istripun luluh juga.
Maka lantas terjadilah dialog berikut: "Papa memang benar-benar ingin
mengetahuinya?"
"Iya lah, Ma. Sekian tahun Papa penasaran ......"
"OK, tapi Papa harus berjanji, Papa tidak akan marah. Papa janji akan tetap
jadi Papa yang selama ini Mama kenal, apapun isi kandaga itu."
Mas Dicky mearasa jantungnya mulai deg-degan, tapi demi hasrat yang 25
tahun terpendam, jadilah akhirnya ia mencoba untuk tetap tenang.
Maka hanya dengan sekedar ditutup selimut mbak Isye bangkit dari ranjang
dan berjalan ke arah lemari,
mengeluarkan kandaga itu dan membawanya ketempat tidur dimana mas Dicky
menunggu.
Pelan-pelan dia buka kandaga itu dan dia unjukkan kedepan
suaminya. Alangkah terkejut mas Dicky ..... isi kandaga itu ternyata cuma
3 biji jagung dan uang receh 6,500 perak!.
Mas Dicky tak habis pikir, mengapa 25 tahun istrinya menjaga rahasia ini
rapat-rapat, hanya sekedar "menyembunyikan" 3 biji jagung dan uang yang tak
seberapa.
Melihat suaminya diam membisu, maka mbak Isyepun angkat bicara: "Pa, Mama
sadar bahwa Mama bukanlah seorang wanita yang sempurna. Mama juga bukanlah
seorang istri impian seperti yang selama ini Papa bayangkan"
Mas Dicky masih diam terpaku dan menyimak saja. "Mungkin Papa heran, apa
arti 3 butir jagung ini. Sebenarnya Mama berat untuk mengatakan ini, tapi Mama
juga sadar, sampai kapan Mama
harus hidup dalam dusta terhadap suami yang mencintai Mama dengan begitu
tulus" (mata mbak Isye mulai
merebak, dan akhirnya air matanyapun runtuh).
"Tapi karena Papa sudah berjanji untuk tidak marah, dan tetap akan menjadi
Papa yang dulu, maka Mama memberanikan diri untuk bicara." ....suaranya jadi
berat, tersendat ......."Mama bukanlah istri yang setia"
akhirnya kalimat itu meluncur dengan nada getir dan datar. "Selama rentang
25 tahun usia pernikahan kita, Mama beberapa kali selingkuh dengan lelaki lain.
Mama mulai melakukan ini di tahun-tahun pertama perkawinan kita, ketika kita
terlibat pertengkaran di rumah. Disaat panik, stress, ada lelaki lain yang
memberikan keteduhan
sesaat, dan Mama pun jatuh. Tapi tiap kali Mama melakukan itu, Mama
benar-benar menyesal, dan sebagai prasasti peringatan maka setiap kali Mama
mengambil sebiji jagung dan memasukkannya ke dalam kandaga ini".
Mas Dicky terhenyak dan menarik napas panjang.
Terasa berat sekali timbang-menimbang dalam hatinya: 3 kali selingkuh dalam
rentang waktu 25 tahun memang bukan pertanda istri yang setia, tapi juga tak
bisa begitu saja dijadikan alasan untuk memulangkan mbak Isye ke rumah ortu-nya,
karena mereka berdua sekarang sudah sama-sama yatim piatu.
Dalam hati mas Dicky berpikir : " ya, sudahlah ... selama inipun aku
bukannya suami yang 100%
steril, ada saja saat-saat yang sulit dihindarkan kalau lagi larut bersama
relasi ...."
" Trus.. uang yang Rp. 6,500.00 itu apaan, Ma?"
"Itulah, Pa... setiap kali Mama melakukan selingkuh, mama tak lupa
memasukkan sebiji jagung
ke dalam kandaga ini. Sampai saatnya butir jagungnya sudah begitu banyak
sehingga kandaga ini nyaris
penuh ......... maka mama jual jagung itu ke warung sebelah. Mama jual
murah sekali, Pa, cuma
lima ratus perak per kilo ..... dan itulah uang hasil penjualan itu semua.
Sepeserpun
tak pernah Mama pakai untuk belanja"
Mas Dicky terkulai lemas, dan beberapa jenak kemudian mbak Isye berteriak
kelu, 'mbangunin si
bontot untuk telpon ambulans. Malam menjelang pagi itu mas Dicky terpaksa
dilarikan ke UGD, istilah medisnya kena stroke, rupanya depressi yang kelewat
berat tak tertahankan oleh jantungnya, betapapun selama ini selalu beliau lulus
dengan mulus setiap general check up 2 tahun sekali ........
CATATAN pinggir:
1 kg jagung @ Rp. 500.00, dus Rp. 6,500.00 = 13 Kg.
1 kg jagung = +/- 1450 butir (anggep aja jagung buat pop corn yg gede)
Sumber : Tidak di Ketahui
0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan tulis komentar anda disini ...