" Dengan jumlah waktu yang sama meskipun kemampuan yang tidak sama. Tetapi orang yang menggunakan waktunya dengan bijak, acapkali mengalahkan mereka yang mempunyai kemampuan lebih."

Selasa, 15 Desember 2009

Kasih Sayang

Touching story from India



Istriku berkata kepada aku yang sedang baca Koran, ”berapa lama lagi kamu

baca koran itu? tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang

untuk makan.”

Aku taruh Koran dan melihat anak perempuanku satu2nya,namanya Sindu tampak

ketakutan,air matanya banjir. Di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi

susu asam/yogurt (nasi khas India /curd rice). Sindu anak yang manis dan

termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka

makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno, mereka percaya sekali

kalau makan curd rice ada "cooling effect". Aku mengambil mangkok dan

berkata, “Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd

rice ini? Kalau tidak ,nanti ibumu akan teriak2 sama ayah.”

Aku bisa merasakan istriku cemberut dibelakang punggungku. Tangis Sindu

mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata, “boleh

ayah. Akan saya makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok, tapi

semuanya akan saya habiskan, tapi saya akan minta...” agak ragu2 sejenak…

“…akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau

berjanji memenuhi permintaan saya?”

Aku menjawab, "Oh pasti sayang".

Sindu tanya sekali lagi, “betul nih ayah?”

“Yah pasti..” sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan

lembut sebagai tanda setuju.

Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama,istriku menepuk

tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, “janji” kata

istriku. Aku sedikit khawatir dan berkata: “Sindu jangan minta komputer

atau barang2 lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang.”

Sindu

menjawab, “jangan khawatir ,Sindu tidak minta barang2 mahal kok.”

Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita

,dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku aku

marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang

tidak disukainya. Setelah Sindu melewati penderitaannya,dia mendekatiku

dengan mata penuh harap. Dan semua perhatian (aku ,istriku dan juga ibuku)

tertuju kepadanya. Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin/dibotakin pada

hari Minggu. Istriku spontan berkata, “permintaan gila, anak perempuan

dibotakin,tidak mungkin!” Juga ibuku menggerutu jangan terjadi dalam

keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV. Dan program2 TV itu sudah

merusak kebudayaan kita. Aku coba membujuk: “Sindu kenapa kamu tidak minta

hal yang lain kami semua akan sedih melihatmu botak.” Tapi Sindu tetap

dengan pilihannya, “tidak ada 'yah, tak ada keinginan lain,” kata Sindu.

Aku coba memohon kepada Sindu, “tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk

mengerti perasaan kami.”

Sindu dengan menangis berkata, “ayah sudah melihat bagaimana menderitanya

saya menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk

memenuhi permintaan saya kenapa ayah sekarang mau menarik/menjilat ludah

sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus

memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi seperti Raja

Harishchandra (raja India jaman dahulu kala )untuk memenuhi janjinya rela

memberikan tahta, harta/kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri.”

Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku, “janji kita

harus ditepati.” Secara serentak istri dan ibuku berkata, “apakah aku

sudah gila?”

“Tidak,” jawabku, “kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan

pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri.”

“Sindu permintaanmu akan kami penuhi.>”

Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan

bagus. Hari Senin ,aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu

botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku. Sambil

tersenyum aku membalas lambaian tangannya. Tiba2 seorang anak laki2

keluar dari mobil sambil berteriak, “Sindu tolong tunggu saya.” Yang

mengejutkanku ternyata kepala anak laki2 itu botak. Aku berpikir mungkin

"botak" model jaman sekarang.

Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan berkata,

“anak anda ,Sindu, benar2 hebat. Anak laki2 yang jalan bersama-sama dia

sekarang, Harish adalah anak saya, dia menderita kanker leukemia.” Wanita

itu berhenti sejenak ,nangis tersedu-sedu, “bulan lalu Harish tidak masuk

sekolah,karena pengobatan chemo therapy kepalanya menjadi botak jadi dia

tidak mau pergi kesekolah takut diejek/dihina oleh teman2 sekelasnya. Nah,

Minggu lalu Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk

mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Hanya saya betul2 tidak menyangka

kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish.

Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang

berhati mulia.”

Aku berdiri terpaku dan aku menangis. Malaikat kecilku tolong ajarkanku

tentang kasih.

Sumber: Gk ingat lg dari siapa nih kiriman

Artikel Terkait:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tulis komentar anda disini ...

 

VISITOR

Jadi Penggemar

Olisus Blog Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template