" Dengan jumlah waktu yang sama meskipun kemampuan yang tidak sama. Tetapi orang yang menggunakan waktunya dengan bijak, acapkali mengalahkan mereka yang mempunyai kemampuan lebih."

Minggu, 13 Desember 2009

Menabung Untuk Membeli Waktu Luang Ayah

Seperti biasa Rudi, Kepala Cabang di sebuah perusahaan
swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada
pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya,
Imron, putra pertamanya yang baru duduk di kelas tiga
SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu
cukup lama.

"Kok, belum tidur?" sapa Rudi sambil mencium
anaknya. Biasanya Imron memang sudah lelap ketika ia
pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke
kantor pagi hari. Sambil membuntuti sang Papa menuju
ruang keluarga, Imron menjawab, "Aku nunggu Papa
pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa?"

"Lho, tumben, kok nanya gaji Papa? Mau minta uang
lagi, ya?" "Ah, enggak. Pengen tahu aja."

"Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa
bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,-. Dan
setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja. Sabtu
dan minggu libur, kadang sabtu Papa masih lembur.
Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo?"

Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja
belajar, sementara Papanya melepas sepatu dan
menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju kamar
untuk berganti pakaian, Imron berlari pengikutinya.
"Kalau satu hari Papa dibayar Rp 400.000,- untuk 10
jam, berarti satu jam Papa digaji Rp 40.000,- dong,"
katanya.

"Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki,
bobok,"perintah Rudi. Tetapi Imron tak beranjak.
Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian, Imron
kembali bertanya, "Papa, aku boleh pinjam uang
rp.5.000,- nggak?"

"Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta
uang malam-malam begini? Papa capek. Dan mau mandi
dulu. Tidurlah. "Tapi Papa..."Kesabaran Rudi habis.
"Papa bilang tidur!" hardiknya mengejutkan Imron. Anak
kecil itu pun berbalik menuju, kamarnya.

Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya. Ia pun
menengok Imron di kamar tidurnya. Anak kesayangannya
itu belum tidur. Imron didapatinya sedang terisak-isak
pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya.
Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu,
Rudi berkata, "Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama
Imron". Buat apa sih minta uang malam-malam begini?
Kalau mau beli mainan, besok'kan bisa. Jangankan Rp
5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih."

"Papa, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku
kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang
jajan selama minggu ini. "Iya, iya, tapi buat apa?"
tanya Rudi lembut.

"Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa
main ular tangga. Tiga puluh menit saja, mama sering
bilang kalau waktu Papa itu sangat berharga.
Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka
tabunganku, ada Rp 15.000,-. Tapi karena Papa
bilang satu jam Papa dibayar Rp 40.000,-, maka
setengah jam aku harus ganti Rp 20.000,-. Duit
tabunganku kurang Rp 5.000,- . Makanya aku mau pinjam
dari Papa," kata Imron polos.

Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya
bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia
baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia
berikan selama ini, tidak cukup untuk "membeli"
kebahagiaan anaknya.

Artikel Terkait:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tulis komentar anda disini ...

 

VISITOR

Jadi Penggemar

Olisus Blog Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template