ini
mengatakan, "Pernikahan itu ditentukan di surga, tapi diperbaiki di
bumi."
Boleh dipercaya, boleh juga disangkal. Memang jodoh ditentukan oleh
Yang
Kuasa, tetapi untuk menentukan terjadinya pernikahan itu kita harus
banyak
melakukan usaha untuk mewujudkannya. Erna menerima pesan untuk makan
siang
dengan Aty sahabatnya dengan catatan: "Penting, jangan sampai tidak
bisa!"
Maka begitu Erna bertemu dengan Aty di tempat mereka janjian, Erna
tak
kuasa menahan sabarnya karena dia tahu persis Aty sahabatnya adalah
wanita
karier
kelas tinggi yang sukses di mana waktu sangatlah langka untuk
dipakai
sekadar ngobrol bareng sambil makan siang. Nah, hari ini pasti ada
hal
penting yang akan Erna dengar dari sahabatnya, maka begitu sampai
> di meja pertemuan, langsung Ern a bertanya: "Angin apa yang
membuatmu
menyisihkan waktu untuk makan siang bersamaku?"
Aty yang manis, tersenyum penuh arti sambil mempersilahkan sahabatnya
duduk
dulu, dan terdengarlah dia berguman seolah berkata pada dirinya
sendiri:
"Kenapa ya setelah kulalui pernikahanku selama lima belas tahun
dengan
mulus, aku bisa jatuh cinta lagi pada laki-laki lain. Aku tak kuasa
menahan
getaran kerinduan yang aku coba tepis dan aku coba untuk
menyadari
sesadar-sadarnya kalau perasaan ini terlarang!"
"Coba kamu bayangkan Erna, tidak ada yang salah dengan Joko suamiku.
Dia
suami yang baik dan tetap seperti dulu, yaitu mencintai dan
membahagiakan
aku sebisanya. Tapi Harry laki-laki yang aku temui satu pesawat
dalam
perjalanan bisnisku ke Amerika membuat aku tidak bisa lagi berakal
sehat."
"Aku jatuh cinta lagi, dan kami berdua sama-sama sadar telah
mempunyai
keluarga yang terbina melebihi sepuluh tahun dan dengan pasangan kami
pun
tidak ada masalah. Tetapi perasaan kami berdua tidak bisa dimengerti
kami
selalu saja rindu untuk bertemu, bahkan akhirnya kami pun sudah
melakukan
hubungan suami-istri yang sangat indah. Ya, indah karena getar-getar
yang
tidak dirasakan lagi bersama suamiku. sekarang begitu menggebu
sepertinya
aku kembali remaja yang baru pernah jatuh cinta dan baru pernah
melakukan
hubungan intim tersebut."
Erna sampai terbengong mendengar apa yang baru saja didengarnya,
bagaimana
tidak? Membayangkan pun dia tidak bisa! Bagaimana Aty bisa jatuh cinta
lagi
pada laki-laki lain selain Joko yang dia kenal baik karena mereka
memang
sudah bersahabat sejak masih kuliah. Ya, Joko laki-laki ideal yang
ganteng
pengusaha sukses yang membuat perempuan lain berharap dialah yang
menjadi
pendamping hidupnya. Joko yang begitu menyenangkan dari dulu
diperebutkan,
tapi hari ini wanita yang sudah membuatnya bertekuk lutut dan
mengikatnya
dalam ikatan suami istri yang sah telah berpaling darinya dan telah
jatuh
cinta lagi dengan laki-laki lain yang baru dikenal. Sungguh tidak
masuk
akal sehat! Aneh tapi nyata, tapi itulah yang terjadi!!
Erna teringat buku yang baru minggu lalu dibelinya di mana judul
buku
tersebut menjadi judul artikel ini, yaitu "Pernikahan Merupakan
Perjalanan
Cinta yang Teruji". Dalam buku tersebut diceritakan bagaimana
sepasang
muda-mudi membina hubungan sejak mereka memasuki bangku SMU
berlanjut
sampai ke perguruan tinggi, begitu mesra penuh cita-cita akan hari
depan.
Maka pada tahun-tahun akhir mereka kuliah
sambil bekerja, mereka berusaha mencicil sebuah rumah untuk berumah
tangga.
Selepas masa kuliah mereka sama-sama bekerja untuk melengkapi rumah
cicilan
tersebut, berharap begitu mereka resmi dipersatukan sebagai suami
istri
rumah beserta isinya sudah lengkap. Tahun demi tahun rumah itu
pun
akhirnya terwujud dengan indah, tapi suatu hari Meita sang wanita
mendapat
tugas kerja di Australia selama tiga bulan, dan Meita begitu
takut
kehilangan Anton sang pria pujaan hatinya. Maka, dia minta ikatan
sah
permulaan yaitu pertunanganan (tukar cincin) yang disaksikan kerabat
dan
teman karib mereka, diikatkan sebagai calon pasangan suami istri yang
sah
di kemudian hari. Resepsi besar direncanakan sepulang Meita bertugas.
Hari demi hari pasangan tersebut lalui dengan komunikasi jarak jauh
yang
mesra. Tetapi belakangan Anton mulai menerima lebih sedikit balasan
dari
sang wanita, dan bulan berikutnya balasan e-mail atau sms tidak pernah
ada
lagi. Sang pria benar-benar maklum kalau Meita sekarang tidak lagi
membalas
surat-suratnya. Dia maklum calon istrinya pastilah sangat sibuk di
negeri
orang. Sampai akhirnya masa tugas tiga bulan sudah selesai, sang pria
yang
setia menunggu hari itu tiba membeli seikat mawar merah dan dengan
penuh
kerinduan menjemput Meita sang kekasih yang akan tiba di bandara.
Begitu
bertemu, dia melihat wajah sayu kekasihnya, mata yang sembab
menandakan
betapa gundah hati Meita dan mata tersebut berkata dia menangis
dalam
waktu yang lama. Dengan penuh kasih sayang sang pria memeluk
calon
istrinya. Tapi apa yang berlangsung kemudian sungguh di luar dugaan.
Dengan
mata sendu sang wanita menatap nanar dan berkata: "Sebaiknya kita
bicara
langsung, kelihatannya ada yang salah dengan pertunanganan kita. Aku
tidak
bisa melanjutkannya karena aku sudah jatuh cinta kepada Bram."
Ya,
laki-laki yang sedari tadi berdiri dekat Meita yang tak kelihatan
dan
disadari oleh Anton. Bram tiba-tiba tersenyum sambil menyodorkan
tangan
perkenalan. Kembali terdengar suara lirih penuh rasa salah Meita: "Bram
aku
temui di pesawat dan ternyata dia rekan kerjaku selama di- Australia
dan
kami sudah hidup bersama di sana." Jadi, jelaslah sudah kenapa
sekarang
Anton tidak mendapatkan lagi balasan surat-suratnya. Ternyata cinta
mereka
yang dirajut bertahun-
tahun musnah tak berbekas hanya dalam waktu tiga bulan. Dengan
lunglai
akhirnya bunga mawar yang dipegangnya tetap dia berikan pada Meita,
dan
Anton merasa hari itu dunia begitu gelap dan angin yang berdesir
pun
terasa tajam di wajahnya. Dia merasa begitu konyol menunggu hari demi
hari
untuk menyerahkan mawar dan mendapat senyum manis kekasihnya yang
sangat
dirindukan yang sebentar lagi menjadi miliknya secara penuh. Apa nyana
hari
itu dia kehilangan orang yang selama ini dikenalnya. Sosok yang
ditemui
saat itu bukan Meita yang dia rindukan, bukan Meita yang dia
kenal.
Entahlah siapa yang saat itu berdiri di hadapannnya yang
perlahan-lahan
meningggalkannya untuk masuk ke mobil lain yang menunggunya.
Dari dua kisah di atas kita memang tidak bisa mengerti akan diri kita sendiri,
bicara
tentang cinta sungguh suatu misteri yang susah dijabarkan. Dalam
artikel
"Memburu Cinta dengan 84.000 Dolar", di mana disimpulkan oleh para
ahli
jiwa bahwa cinta merupakan gabungan psikologi, biologi, dan kimia yang
bisa
dihitung dan didefinisikan. Nah, bagaimana hitungannya kalau yang
terjadi
di luar akal sehat? Perasaan cinta tidak mengenal bangsa, budaya
maupun
usia bahkan tidak mengenal situasi dan kondisi dari manusia
manapun di
dunia ini. Rasa cinta selain berisi harapan untuk selalu dekat
dengan
segala hal yang diinginkan, juga memiliki pemahaman untuk
selalu
membahagiakan orang yang dicintai. Nah, kalau cinta sudah
menghasilkan
korban yang bersedih, itu bukan cinta namanya. Maka pernikahan
adalah
sebuah ujian cinta yang harus dilakoni bersama. Apakah kita bisa
memberi
dan menerima kebahagiaan dari pasangan nikah kita? Apakah kita akan
lulus
menempuh ujian cinta ini? Hanya diri sendiri yang tahu.
Sumber : kutipan dari David WF Wong yang dikirim oleh seorang teman
0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan tulis komentar anda disini ...